HUNTING MAHABBATULLAH

Kamis, 25 Maret 2010

SEBELUM FAJAR

Kita masih juga menanti
ketika angin membawa derai ombak
dan bayangkan kuntum-kuntum karang
terbuka menyambut ujung ombak
perciknya menutupi cakrawala

“Ia belum juga tiba”, katamu;
kembali suara itu membentur dinding
dan susut dalam angin

kita masih mengharapkan juga
ketika diluar terdengar langkah kaki
kita bayangkan pembawa berita itu
berhasil menyebrang samudra
segera akan mengumumkan pembebasan kita

tetapi waktu selalu cepat lewat
sebelum kata pertama dikumandangkan
entah apa yang akan meredakan dingin
yang hamper mengkristal dalam pembuluh darah kita

TAFAKUR USAI PERBINCANGAN



Dari arah mata angin yang berbeda,
Kau,… aku,… bertemu dinoktah persimpangan ini,
Diprogram jadwal dan waktu,

Mata kita kabur oleh air mata payau
Menatap tetes pasir waktu,
Dalam tabung-tabung gelas,… yang kian menipis.

Membuka gapura,
Kau,… Aku,… menciptakan bejana,
Tempat sungai-sungai dari segala arah mata angin bermuara,…

Kau,… Aku,… menyusuri kehulu,
Menziarahi mata airnya,
Mengumpulkan memori purba,
Yang tak’tercatat dalam manuskrip.

Apa yang kita dapatkan dari pokok-pokok muda yang luruh,…
Sebelum sempat mekar merekah?,…

Kau,… Aku,… sama-sama tersesat,
Dalam belantara kabut rawa-rawa pikir
Hujan menjadikan air mata kita
Kian basah berkaca-kaca
Bahkan terpejam nyaris kekal

Dan agaknya waktu tak pernah cukup,
buat menyembuhkan luka ,
dari tiap-tiap tandan duka,

kita lihat masih ada tunas-tunas hijau muda tersisa,
lantas dengan sejuta ekstase,
Kau,… Aku,… memetiknya sebelum jadi abadi.

Pagi,… Siang,… telah kita habiskan,
Disini,… dipertemukan program jadwal dan waktu,
Dan sebelum sadar dari bius anggur kehidupan,
Lonceng telah memanggil,
dari reruntuhan kemegahan cahaya senja.

Kau,… Aku,… lalu melangkah pulang,
Melewati titian panjang arah sejarah,
Buat belajar setia pada janji.

Sebelum sempat berbenah,
Sebelum sempat mengucap kata berpisah,
Segalanya telah mengkristal dalam hening yang sakral.
St,

Jumat, 19 Maret 2010

Berburu Cinta Allah


Cinta menjadi roh bagi iman dan amal
jiwa bagi semua hal spiritual
tanpanya semua bagai jasad tanpa nyawa
Ia sanggup mengantarkan siapapun
kesuatu tempat yang hanya dapat dicapai
dengan perjuangan berat
Ia membawa manusia kepuncak dan maqam
yang tidak dapat dicapai oleh orang
yang tidak memiliki Cinta

Mahabbatullah adalah rahmat terbesar
dan anugrah yang paling berharga nilainya
dan hanya dapat diketahui
oleh mereka yang mengenal Allah
dan mengetahui Sifat-NYA

Jangan pernah menunda
tanpa melakukan persiapan kematian
karena umur kita terlalu singkat
anggaplah setiap tarikan nafas sebagai udara yang terakhir dihirup

bersambung dulu ya,......

Senin, 15 Maret 2010




















Kalau hidup bisa tersenyum, ...kenapa harus berwajah kecut
kalau pandangan bisa lurus tajam kedepan,...
kenapa harus
menunduk atau menoleh kebelakang
hidup memang tak pasti, ... tapi yang punya kehidupan memberi kepastian
barang siapa yg menjalankan perintahnya, penuh yakin
makapilihan hidup itu akan terasa lebih pasti.

family slideshow