Dari arah mata angin yang berbeda,
Kau,… aku,… bertemu dinoktah persimpangan ini,
Diprogram jadwal dan waktu,
Mata kita kabur oleh air mata payau
Menatap tetes pasir waktu,
Dalam tabung-tabung gelas,… yang kian menipis.
Membuka gapura,
Kau,… Aku,… menciptakan bejana,
Tempat sungai-sungai dari segala arah mata angin bermuara,…
Kau,… Aku,… menyusuri kehulu,
Menziarahi mata airnya,
Mengumpulkan memori purba,
Yang tak’tercatat dalam manuskrip.
Apa yang kita dapatkan dari pokok-pokok muda yang luruh,…
Sebelum sempat mekar merekah?,…
Kau,… Aku,… sama-sama tersesat,
Dalam belantara kabut rawa-rawa pikir
Hujan menjadikan air mata kita
Kian basah berkaca-kaca
Bahkan terpejam nyaris kekal
Dan agaknya waktu tak pernah cukup,
buat menyembuhkan luka ,
dari tiap-tiap tandan duka,
kita lihat masih ada tunas-tunas hijau muda tersisa,
lantas dengan sejuta ekstase,
Kau,… Aku,… memetiknya sebelum jadi abadi.
Pagi,… Siang,… telah kita habiskan,
Disini,… dipertemukan program jadwal dan waktu,
Dan sebelum sadar dari bius anggur kehidupan,
Lonceng telah memanggil,
dari reruntuhan kemegahan cahaya senja.
Kau,… Aku,… lalu melangkah pulang,
Melewati titian panjang arah sejarah,
Buat belajar setia pada janji.
Sebelum sempat berbenah,
Sebelum sempat mengucap kata berpisah,
Segalanya telah mengkristal dalam hening yang sakral.
St,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar