HUNTING MAHABBATULLAH

Rabu, 16 Juni 2010

KAWAN JIWAKU


Kemarin, Cinta mulai menciptakan prosa lirik kehidupan yang tercipta dari rahasia hujan segar turun dari langit, mensucikan alam semesta demi menyuling kekuatan dataran yang diberkati.

Kemarin ada setitik asa yang menggumpal dalam dada, dan mengalir keseluruh pelosok nadiku, membakar jiwa pada setiap denyutnya, dan mengencangkan degup jantung bagai gempa yang tak kunjung reda.

Aku berjalan dalam angan, dalam bayang-bayang sepoy angin bertiup, melintas hutan cemara dan kebun teh dalam hangatnya hati, walau tak sepatah kata terucap tapi riaknya membuat warna dalam hembusan asa yang tercurah.

Aku mengenalnya sebagai perantau yang tersesat dijalan raya kehidupan, dikuasai oleh tingkah laku masa muda yang menghindari jalan kearifan dengan segan tapi kembali dengan kerelaan dan didalam dirinya terdapat topan yang meniup debu dan pasir, dalam lantang kehidupan terus membawanya hingga memenuhi sudut mata.

Aku mengenalnya dan merasakan suatu kehangatan padanya, karena aku telah melihat merpati nuraninya bercengkrama dalam fana jagad raya.

Aku mengenalnya, dan merasakan siraman sejuk dari ujung rambutku, mengalir pada setiap pori-porinya, dan aku telah tenggelam pada lautan asa, dan gelombang nafasku perlahan menghilang dalam damai bahagia.

Kini, dimanakah engkau kawan,
Adakah engkau ditaman mungil tempat air mata bunga menitik, atau dibilik mungilmu tempat aku berada dipuncak kesucian altar,dan mengorbankan diatasnya jiwaku, hatiku, asaku dan rohku? Atau mungkin diantara bukumu, yang menuai kearifan dari sejumput asa yang kau toreh diatas lembar jejak hidupmu,?

Kini, dimanakah engkau, kawan jiwaku?
Adakah engkau dialtar berdoa untuk ku? Atau dipadang rumput menyeru pada alam. Tempat berlindung pesona dan impianmu, Atau mungkin digubuk reot penuh bambu, melipur lara mereka yang putus asa dengan kemanisan dirimu.
st
DEKAT JENDELA

Di stasiun itu kita menunggu malam,
Menyapa apa adanya,…
Dan tertawa apa adanya,…
Lalu,… keretapun berangkat bersama waktu,

Membuka jendela,… mengharap sejuk menyapa
Ketika semalam,… bulan takluk pada gumpalan awan hitam
Dan rumah dibumi rasa terendam sekam,
Kemudian menyapu lantai,
Mengaburkan debu ketong itu
Dan membuka pula pintu,
Siapa tau bakal ada tamu.

Lalu lewat jendela muram,
Engkau akan menjenguk,… katamu
Lalu angin itu menggerai-geraikan rambutku
Ranting menghempas surut,…dan aku diam
Masih berselisih dengan bayang-bayang

Bangkitlah,…
Kita akan menyaksikan kapal-kapal berlabuh,
Setelah semalam kita layarkan,
Lalu lari kepuncak gunung,
Dalam pendakian yang tak berujung.

Hari pecah terinjak,…
Mulut tersobek,…
Tinggal angan,….
Ada,… tapi tiada,…
Terbisik halus suatu kegemaran,
Dalam hidup dan kehidupan.

Anginpun menggerak-gerakkan tubuhnya,
Berayun-ayun seperti kapal tua,
Dan aku tergugu diam,
Membiarkan pohon-pohon hijau meninggi,…
Rimbun,… memenuhi mimpimu.
Dan sajadah kulipat,
Setelah semalam laut tiba-tiba pasang.

Dan kini jendela itu telah aku tutup,… sebagai gantinya
Aku buat gambar jendela dan gambar dari kertas,
Dan angin tetap menggoyang-goyangkanya,
Sehingga kutak dapat,
Menangkap wajahmu yang terus bergerak-gerak.

family slideshow