Kemarin, Cinta mulai menciptakan prosa lirik kehidupan yang tercipta dari rahasia hujan segar turun dari langit, mensucikan alam semesta demi menyuling kekuatan dataran yang diberkati.
Kemarin ada setitik asa yang menggumpal dalam dada, dan mengalir keseluruh pelosok nadiku, membakar jiwa pada setiap denyutnya, dan mengencangkan degup jantung bagai gempa yang tak kunjung reda.
Aku berjalan dalam angan, dalam bayang-bayang sepoy angin bertiup, melintas hutan cemara dan kebun teh dalam hangatnya hati, walau tak sepatah kata terucap tapi riaknya membuat warna dalam hembusan asa yang tercurah.
Aku mengenalnya sebagai perantau yang tersesat dijalan raya kehidupan, dikuasai oleh tingkah laku masa muda yang menghindari jalan kearifan dengan segan tapi kembali dengan kerelaan dan didalam dirinya terdapat topan yang meniup debu dan pasir, dalam lantang kehidupan terus membawanya hingga memenuhi sudut mata.
Aku mengenalnya dan merasakan suatu kehangatan padanya, karena aku telah melihat merpati nuraninya bercengkrama dalam fana jagad raya.
Aku mengenalnya, dan merasakan siraman sejuk dari ujung rambutku, mengalir pada setiap pori-porinya, dan aku telah tenggelam pada lautan asa, dan gelombang nafasku perlahan menghilang dalam damai bahagia.
Kini, dimanakah engkau kawan,
Adakah engkau ditaman mungil tempat air mata bunga menitik, atau dibilik mungilmu tempat aku berada dipuncak kesucian altar,dan mengorbankan diatasnya jiwaku, hatiku, asaku dan rohku? Atau mungkin diantara bukumu, yang menuai kearifan dari sejumput asa yang kau toreh diatas lembar jejak hidupmu,?
Kini, dimanakah engkau, kawan jiwaku?
Adakah engkau dialtar berdoa untuk ku? Atau dipadang rumput menyeru pada alam. Tempat berlindung pesona dan impianmu, Atau mungkin digubuk reot penuh bambu, melipur lara mereka yang putus asa dengan kemanisan dirimu.
st
Kemarin ada setitik asa yang menggumpal dalam dada, dan mengalir keseluruh pelosok nadiku, membakar jiwa pada setiap denyutnya, dan mengencangkan degup jantung bagai gempa yang tak kunjung reda.
Aku berjalan dalam angan, dalam bayang-bayang sepoy angin bertiup, melintas hutan cemara dan kebun teh dalam hangatnya hati, walau tak sepatah kata terucap tapi riaknya membuat warna dalam hembusan asa yang tercurah.
Aku mengenalnya sebagai perantau yang tersesat dijalan raya kehidupan, dikuasai oleh tingkah laku masa muda yang menghindari jalan kearifan dengan segan tapi kembali dengan kerelaan dan didalam dirinya terdapat topan yang meniup debu dan pasir, dalam lantang kehidupan terus membawanya hingga memenuhi sudut mata.
Aku mengenalnya dan merasakan suatu kehangatan padanya, karena aku telah melihat merpati nuraninya bercengkrama dalam fana jagad raya.
Aku mengenalnya, dan merasakan siraman sejuk dari ujung rambutku, mengalir pada setiap pori-porinya, dan aku telah tenggelam pada lautan asa, dan gelombang nafasku perlahan menghilang dalam damai bahagia.
Kini, dimanakah engkau kawan,
Adakah engkau ditaman mungil tempat air mata bunga menitik, atau dibilik mungilmu tempat aku berada dipuncak kesucian altar,dan mengorbankan diatasnya jiwaku, hatiku, asaku dan rohku? Atau mungkin diantara bukumu, yang menuai kearifan dari sejumput asa yang kau toreh diatas lembar jejak hidupmu,?
Kini, dimanakah engkau, kawan jiwaku?
Adakah engkau dialtar berdoa untuk ku? Atau dipadang rumput menyeru pada alam. Tempat berlindung pesona dan impianmu, Atau mungkin digubuk reot penuh bambu, melipur lara mereka yang putus asa dengan kemanisan dirimu.
st
Tidak ada komentar:
Posting Komentar