HUNTING MAHABBATULLAH

Minggu, 11 Juli 2010

RITUS PERTEMUAN

Ritus Pertemuan

Sebagaimana malam yang terlalu gagap membaca isyarat

kitapun kuyup sendiri menjaga keterasingan satu-sama lain

Hujan tlah lama reda,

namun aromanya masih juga tercium dari matamu

ada sebuah telaga disitu, rumah tak berpenghuni,

mengirim kembali jejak tiris yang mengerak dalam puisi;

“ SIAPAKAH DIRIMU,

AKU SEPERTI DEMAM MENGENALNYA”

Maka seperti suara gaduh yang ditiup megaphone itu

dadaku menghentak mencari-cari ruang kosong

buat tempat sembunyi ditengah kerumunan sorot lampu-lampu

Ribuan mimpipun gemetar dalam sebuah dunia yang kikuk;

“ Kau, rindu keparat yang mabuk ini, betapa anggunnya menyalibku dengan denting

secangkir kopi”

(Diam-diam ada yang sengit beranjak meninggalkan tubuh kita,

berjalan jauh kearah masa lalu, seperti anak piatu yang berseru memanggil nama ibu)

“ SIAPAKAH DIRIMU,

AKU SEPERTI DEMAM MENGENALNYA”

diseperempat malam yang tersisa, sekali lagi kita hanya bersepakat untuk tidak saling…

st

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

family slideshow