Ritus Pertemuan
Sebagaimana malam yang terlalu gagap membaca isyarat
kitapun kuyup sendiri menjaga keterasingan satu-sama lain
Hujan tlah lama reda,
namun aromanya masih juga tercium dari matamu
ada sebuah telaga disitu, rumah tak berpenghuni,
mengirim kembali jejak tiris yang mengerak dalam puisi;
“ SIAPAKAH DIRIMU,
AKU SEPERTI DEMAM MENGENALNYA”
Maka seperti suara gaduh yang ditiup megaphone itu
dadaku menghentak mencari-cari ruang kosong
buat tempat sembunyi ditengah kerumunan sorot lampu-lampu
Ribuan mimpipun gemetar dalam sebuah dunia yang kikuk;
“ Kau, rindu keparat yang mabuk ini, betapa anggunnya menyalibku dengan denting
secangkir kopi”
(Diam-diam ada yang sengit beranjak meninggalkan tubuh kita,
berjalan jauh kearah masa lalu, seperti anak piatu yang berseru memanggil nama ibu)
“ SIAPAKAH DIRIMU,
AKU SEPERTI DEMAM MENGENALNYA”
diseperempat malam yang tersisa, sekali lagi kita hanya bersepakat untuk tidak saling…
st
Tidak ada komentar:
Posting Komentar