DEKAT JENDELA
Di stasiun itu kita menunggu malam,
Menyapa apa adanya,…
Dan tertawa apa adanya,…
Lalu,… keretapun berangkat bersama waktu,
Membuka jendela,… mengharap sejuk menyapa
Ketika semalam,… bulan takluk pada gumpalan awan hitam
Dan rumah dibumi rasa terendam sekam,
Kemudian menyapu lantai,
Mengaburkan debu ketong itu
Dan membuka pula pintu,
Siapa tau bakal ada tamu.
Lalu lewat jendela muram,
Engkau akan menjenguk,… katamu
Lalu angin itu menggerai-geraikan rambutku
Ranting menghempas surut,…dan aku diam
Masih berselisih dengan bayang-bayang
Bangkitlah,…
Kita akan menyaksikan kapal-kapal berlabuh,
Setelah semalam kita layarkan,
Lalu lari kepuncak gunung,
Dalam pendakian yang tak berujung.
Hari pecah terinjak,…
Mulut tersobek,…
Tinggal angan,….
Ada,… tapi tiada,…
Terbisik halus suatu kegemaran,
Dalam hidup dan kehidupan.
Anginpun menggerak-gerakkan tubuhnya,
Berayun-ayun seperti kapal tua,
Dan aku tergugu diam,
Membiarkan pohon-pohon hijau meninggi,…
Rimbun,… memenuhi mimpimu.
Dan sajadah kulipat,
Setelah semalam laut tiba-tiba pasang.
Dan kini jendela itu telah aku tutup,… sebagai gantinya
Aku buat gambar jendela dan gambar dari kertas,
Dan angin tetap menggoyang-goyangkanya,
Sehingga kutak dapat,
Menangkap wajahmu yang terus bergerak-gerak.
Di stasiun itu kita menunggu malam,
Menyapa apa adanya,…
Dan tertawa apa adanya,…
Lalu,… keretapun berangkat bersama waktu,
Membuka jendela,… mengharap sejuk menyapa
Ketika semalam,… bulan takluk pada gumpalan awan hitam
Dan rumah dibumi rasa terendam sekam,
Kemudian menyapu lantai,
Mengaburkan debu ketong itu
Dan membuka pula pintu,
Siapa tau bakal ada tamu.
Lalu lewat jendela muram,
Engkau akan menjenguk,… katamu
Lalu angin itu menggerai-geraikan rambutku
Ranting menghempas surut,…dan aku diam
Masih berselisih dengan bayang-bayang
Bangkitlah,…
Kita akan menyaksikan kapal-kapal berlabuh,
Setelah semalam kita layarkan,
Lalu lari kepuncak gunung,
Dalam pendakian yang tak berujung.
Hari pecah terinjak,…
Mulut tersobek,…
Tinggal angan,….
Ada,… tapi tiada,…
Terbisik halus suatu kegemaran,
Dalam hidup dan kehidupan.
Anginpun menggerak-gerakkan tubuhnya,
Berayun-ayun seperti kapal tua,
Dan aku tergugu diam,
Membiarkan pohon-pohon hijau meninggi,…
Rimbun,… memenuhi mimpimu.
Dan sajadah kulipat,
Setelah semalam laut tiba-tiba pasang.
Dan kini jendela itu telah aku tutup,… sebagai gantinya
Aku buat gambar jendela dan gambar dari kertas,
Dan angin tetap menggoyang-goyangkanya,
Sehingga kutak dapat,
Menangkap wajahmu yang terus bergerak-gerak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar