Dua Kota
Hidup meletakkan diriku diatas sayapnya,
dan membawaku kepuncak gunung muda,
ia memberi isyarat agar aku menoleh,
akupun menoleh kebelakang;
tampaklah sebuah kota lama tapi terasa tak begitu asing
asap samar membumbung,
berkelok-kelok meliuk-liuk dan berguling-guling
selimut awan tipis nyaris
menutupi kota itu dari pandanganku
setelah sejenak hening,
aku bertanya “apakah yang kulihat itu hidup?”
dan hidup menjawab
“itu adalah kota dimasa lalu, lihat dan pandanglah baik-baik!”
Kurenungi pemandangan yang mengherankan itu,
tampak banyak sosok dan wujud.
Gedung-gedung dibangun tegak
bagaikan raksasa dibawah sayap tidur,
kuil-kuil dengan roh-roh yang melayang-layang
seraya menangis putus asa, atau menyanyikan lagu harapan,
kulihat rumah ibadah yang dibangun oleh kepercayaan,
dan dihancurkan oleh keraguan
kulihat menara-menara pikiran pencakar langit
bagai tangan mengalung,
kulihat jalan raya hasrat yang merentang
seperti sungai yang membelah lembah,
gudang rahasia yang dijaga oleh pengawal persembunyian
dan dirampok oleh pencuri-pencuri penyingkapan,
menara-menara yang ditegakkan oleh kebenaran
dan diruntuhkan oleh ketakutan,
tempat pemujaan impian dihias oleh kantuk
dan dirubuhkan oleh kesadaran
warung minuman asmara tempat para kekasih mabuk
dan kekosongan mengejeknya
gedung sandiwara tempat kehidupan memainkan lakonnya
dan ajal melengkapi lakon sedih kehidupan.
kota masa lalu tampak samar dikejauhan walau nyata dekat,…
kini, kota masa lalu,… nyata dekat,
tapi Nampak samar bak dikejauhan
lamat-lamat diantara awan abu.
kemudian hidup memandangku, lalu berkata:
“Ikutlah aku, terlalu lama sudah kita berada disini!”
sepertinya perjalanmu hanya stak ditempat.
dan kujawab; “Kemana kita kan pergi, hidup?”
kata hidup; “ kita menuju kota masa depan”
aku menyambung; “kasihani aku, hidup,” “aku lelah,
kakiku luka memar dan tubuhku tak berdaya lagi”
bagaimana aku berjalan, jika pandanganku samar,
untuk apa aku pergi, jika kutak punya janji,
kemana aku melangkah, jika ,… entah tujuan”
tapi hidup menyahut; ” ayo berangkat,kawan!”
jangan sengaja menunda-nunda, itu sifat pengecut!
aku menyambung; “Sebenarnya aku punya mata,
tapi kota masa lalu tampak samar,
sebenarnya aku punya tangan,
tapi aku tak yakin mana yang harus ku genggam,
sebenarnya aku punya kaki,
tapi aku tak yakin kemana aku harus melangkah,
sebenarnya aku punya hati,
tapi aku tak yakin apa yang harus kuyakini,
Memandang terus kota masa lalu
adalah perbuatan gila, tapi,…sepertinya
masa depanku ada dikota masa lalu,…
atau aku harus melihat kota masa depan yang segera mulai tampak,…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar