HIDUPKU MATIKU RAMADHAN
OBROLAN PADA SAHABAT ‘95
Halo sobat
dimalam semi tahun penuh pesona, aku berada diperjalanan
antara rumah dan rantau, antara fana dan kandungan ibu,
antara peluh dan upaya,… dan kini Ramadhan menyirami hati,
dipertengahan bulan ini.
Taman penuh dengan bunga, bulan dan nisan
dan bumi berselimutkan rumput hijau
semua seperti rahasia yang membumbung kesorga
Pepohonan jeruk dan apel Nampak bagai bidadari yang dititahkan oleh alam
buat memberi ilham para penyair dan membangkitkan khayal,
berselimutkan baju-baju putih dari kembangnya yang mekar semerbak.
Jika terang datang, gelap pasti menjelang, jika kapal berlayar pasti kan berlabuh
jika siang berarti tantangan, maka malam kan datang dan yang hidup berarti mati.
karna lingkaran mempertemukan dua titik yang berlawanan, dan roda trus berputar.
Sobat!, … dari kandungan ombak, aku terlempar keatas pasir
lilia merekah dan laut menghebat,
Pergi! …tempuh api dan nyala, bila nanti darah menjadi encer,
pasang kan membawa asaku kembali kekandungan gelombang,
dan tidurku damai,…
Akankah hari itu datang,… sobat?
Hidup dan kehidupan membawa kebijaksanaan dan harapan
jika kita terhempas dan laut menghebat,… tapi kita tlah berserah,
maka jiwa penuh rahmat atasi sedih dan duka.
Sahabat!
Kebijaksanaan adalah mencintai dan menghormati Tuhan
ternilai dari pengetahuan dan perbuatannya,
yang merupakan lambang keagungan sejati.
tapi awan tak slalu berfungsi melindungi bumi dari terik matahari
Jika malaikat-malaikat kebahagiaan berperang melawan setan-setan kesengsaraan,
dan diantaranya kita berdiri, ditarik oleh harapan kesatu arah,
dan ditarik pula oleh keputus asaankearah lain, maka cinta dan benci menggeluti hati.
Cinta menyembunyikan kesalahan manusia,
dan memabukkannya dengan anggur penyerahan, pujian dan penjilatan,
seangkan kedengkian membujuknya,
menyumbat telinga dan membutakan mata terhadap kebenaran.
Sobat!
entahlah, kemana sekarang aku kan pergi
pasang yang surut membawa nyanyianku penghabisan
dayungpun aus,… aku enggan melangkah
dari kiri dan hilir angin mendesir
jauh dilereng gembala menghalau ternak sayup-sayup.
semak bersungut, terganggu dalam nyenyaknya,
lalu tertidur lagi.
Ach,… jantung yang berdenyut terus,
dalam denyutnya tak bisa lagi menampakan bulan yang mesra sinarnya.
Aku tau, keheningan malam merupakan duta paling utama antara diri dan hati
karna mengandung amanat dan melafaskan kidung suci,
dan bila Tuhan menyaksikan jiwa terpenjara dalam raga,
ternyata membuat kita terpenjara oleh kata-kata.
Aku bicara kamu mendengar, hanya itu,…
dan kita berbincang tentang hidup dan mati,
dan ramadhan yang meneduhi hati.
Sahabat!
Setetes air terguling-guling kelaut,
naik mengawan,… dan terpuruk jatuh
kalau ini betul pahatan-Mu,
baiklah aku Kau hanguskan sekali
dan senja yang kan memerah
tenggelam kembali kedalam kesempatan malam.
lalu aku percaya,…
sekali kasih-Mu kan meluruskan pelangi diatas
dan aku naik tak terjatuh lagi,…
terpatri warna dan cahaya.
Tuhanku,… dekatkan bulan kegenggaman tangan
cahaya, rona nan mesra…
terlihatkah pahatan itu sobat?
dalam hujan tercurah dilaut terbuka dan gembira
aku tidak mau memimpin orchestra,
kalau tidak bermusikkan kasih-MU
Senandungku kan menyaingi unggas dihutan
menyaingi detak detak lokomotif yang laju
hitam-putih menembus pepohonan
Bunga dan warna berserakan,
pabrik-pabrik memalu gamelan,
dan aku dipangku sutra dewangga kepulau harapan
tapi juga dari sana terdengar suaraku mengalun
membawa kasih sexofone, kelaut gembira dan bumi yang beracun.
sampaikah alunanya?
dilaut atau bumikah kau berpijak, sobat?
kalau betul semua tebaran gemerlap ladang,
Cuma mngerdip karna diusap jarak pandang
bukankah lebih baik sobat? kita naik keatas bukit,…
bentangkan langit diatasku,… jernihkan ..jernihkan
tapi debu selimuti bumi, berat setinggi raksasa
asap mesiu mati, dan bangkai menghantui
berkeluyuran tebal dalam pengab
suaraku bulat-bulat dimakan senyap.
Maka bulan, … jangan berharap aku akan terus tengadah
karna kau sendiri tiada tetap
tiap terbit berganti wajah,
kalau tlah mengembang, engkau pasti ku tinggalkan
menyongsong matahari bersama siang
kalau-kalau Engkau titikkan belas-Mu sebuah
Kadang aku harus bicara, tentang rasa sakitku,…
menunggu mukjizat adalah kesakitan juga.
tidak seluruhnya salah,…
rasa sakit cukup menenangkan, …katamu
yang semua alami dan mimpi itu akan hilang.
Janganlah kejam atau manis, aku hanya ingin kau dengar
aku datang menarik ucapan yang pernah merusak hari.
Jahatkah?...
atau kita hanya salah menilai diri
meskipun benar, jahatkah?... itu tak penting lagi,…
lalu kini selidiki, masih manusiakah kita?...
kadang aku harus bicara tentang rasa sakitku,
menunggu mugzijat,… adalah kesakitan juga
setelah darah mengalir,… kenapa perlu disesali
berlayarlah bersama istirohmu,… bawa hati dari penat bayang-bayang senja.
jangan senandungkan pangkur, jangan mimpikan kuru setra
karna pangkur kehilangan semangat perang
dan pahlawan tak lagi lahir dikuru setra
yang tinggal hanyalah jeritan kematian sia-sia para ksatria
Jika matahari bangkit,…
maka ia telah berdiri dipersimpangan jalan
bersih, berseri, bertopi,… dan bersandal jepit
ditangannya berpuluh berita penting
diapit dan diajaknya bermain dengan waktu
dan aku duduk diantara orang-orang baik
mereka mengira aku orang baik,
lalu aku berdiri diantara orang-orang yang tidak baik
mereka mengira aku orang yang tidak baik
aku berkaca pada ajal yang kutinggal,
ternyata aku berada pada arah yang berlainan
putih bercampur hitam dan menjadi “kelabu”
aku dekati pandai besi,… tubuhku kotor dan bedebu,… lalu
aku dekati penjaga minyak wangi,… namun
harumnya tak dapat menepis debu
kelabu tetap kelabu, tidak akan kembali putih,
tetapi akankah itu abadi?... Entahlah aku hanya dapat mengikuti waktu
Dunia adalah suatu impian,… nyata namun tidak abadi.
Suatu jalan terbentang disana, dan kita dapat berjalan didalamnya,
kita bebas berjalan dengan satu atau dua kaki,…
namun kadang kita berbesar hati,… tergoda nafsu
jalan yang lurus jadi berkelok, jalan datar jadi menurun dan mendaki
Suatu saat nanti,
kita akan tersentak bangun dari mimpi panjang,
dan akan saling bertanya,”dimanakah ini?”,….. “apakah ini suatu kenyataan?”
lalu sebagian yang lain berkata” kembalikan aku kedalam mimpi,
biarkan kami bermimpi selamanya!”…
teriakanya hanya suatu penyesalan abadi
tidak ada suatu kekuatan apapun yang menandingi-NYA
bahkan maut telah merebut inginmu
menjalar saat yang tercatat dalam hitungan,… aku hanya mengigau.
kalau berbisik-bisik pada enau,… sebagai cirri kita belumlah mati.
Kemarin,…
betapa jauh jarak kemarin,… dan,
pun betapa dekat pula, rohku dan diriku
pergi kelaut hendak membasuh lumpur yang melekat pada badan
setiba disamudra mencari tempat tersembunyi dari mata orang,
jika kapal terlewat karang lutan,
dan tertunduk diatas karang kelabu kotor,
memegang kantung, sesekali memegang segenggam garam
dan menaburkanya kepermukaan air laut.
kecil hatinya,… tak dapat melihat sesuatu yang dapat menghalau kemuraman,
maka,… carilah tempat lain saja,
jika terus berjalan mencari tempat yang pantas, sampailah disebuah teluk kecil
jika sampai pandangan pada karang putih, maka …
peganglah kotak kecil yang bertahtahkan permata dan …
sesekali mengambil segenggam gula dari kotak itu,
lalu menaburkanya kepermukaan laut,… terlalu berani!.
bahkan suka mencari penemuan yang mustahil,… patutkah?...
dan jika terus berlayar maka sampailah dipesisir, lalu,,,
memunguti ikan-ikan kecil yang mati,
lalu melemparkanya kembali kelaut…Gilakah?
meski halus perasaanya dan jika menggarisi batas bayangan pada pesisir,
sedangkan ombak menghapuskan lukisanya lagi, … ach!
Banyak sekali angan yang terlintas ketika daku terayun ombak samudra
ditengah lautan bebas akankah kupeluk seluruh gelombang ombak yang menderu,
tapi derunya berteriak!...”aku ingin bebas mencari jalanku sendiri!”…
pada keelokan pantai menantang para peselancar,
memandang lekukan tubuh para penjemur badan,
menendangi tumpukan pasir laut dan anak-anak kecil menuju tepian pantai,
atau bahkan menenggelamkan sebuah kampung nelayan, …apa perdulimu….
kenapa jauh-jauh arungi samudra,…datanglah keserambi dengan semangkuk teh,
jika dibelakang terhampar ketandusan laut,
dan pohon pinang yang cumin satu mongering dekat lubang jemuran ikan,…
tapi insyafkah kita?...
bahkan sinar wajib kita bagi dengan kata, hingga berlipat
tapi jantung yang teriris harus seorang diri kita ratap.
Telah Kau curahkan hujan keatas rambutku,
berilah juga aku udara yang kan bias menghisap air-Mu kebadan
hingga dalam emas bercahaya.
Aku tlah meentak, meregang tapi jangkauan masih saja singkat,
dan bila ombak tak sampai keteluk, dimanakah nanti kapal bias berlabuh?...
dan memunggahkan muatannya yang Kau muatkan.!..
Dengan Kasih-Mu tangan kan sanggup memeluk gunung,
Untuk-Mu, dan matahari pasti bersuka membelai kecambah baru muncul.
Besok aku pulang dengan kapal pertama
jangan coba memanggilku,…
tanamanku berdiri diatas tanah pinjaman,
meski tangan kan berdarah,
kucabut juga dengan akar-akarnya.
Hari terlalu cerah,… tidak boleh kita keruhkan dengan nafas yang pura-pura,
bila kita terus juga bernafas disini, burung kan berjatuhan mati.
Dimudik ada ngarai, tak ada gedung yang berhenti disana, menjorok antara duri
tapi darah tak memanas seperti aku kehilir,
karena dihilir berkecimpung gelak tawa dan bersinar harap menarikku keluar,
sedang tempatku didalam, kerajaan mega dan senja yang tak terbatas.
Ingin kutumpahkan rindu,
pada lubang kunci dan daun-daun pintu,
yang ditunggu ibu setiap waktu,
dan kulunaskan rasa kehilangan dihati ayah
yang menghitam dilubang-lubang jendela
Ibu yang bermata telaga,
kini tlah menjadi penghuni sebuah album tua milik anaknya,
Ayah yang berhati lembut,
kini tlah menjadi penghuni sebuah lembah damai penantian,
menunggu berkumpulnya smua yang berasa.
Hari-hari kemarinpun perlahan terbingkai kenangan
pagar bambu, pohon jambu dan rumah kayu, dikota bludru
Lalu dari negri jauh sehelai suratpun tiba,
mencari alamat seorang bungsu anak yang pergi.
Anakku!,…Anakku!,…
benarkah waktu tlah menghianati kita?,…
Demikianlah kerinduan itu perlahan menjamur,
melekati disetiap batang jarum jam,
lalu mimpi memanjang,… membuka pintu dan jendela
hingga dapat kulihat kanak-kanak berlarian,
bersama angin dantara bunga-bunga rumput,
sementara burung-burung menjauh meraba horizon.
Ketika matahari senja melukis jingga,
dipelepah padi kuhisap nafas yang dulu pernah kau hisap , ibu…
seperti sungai menggenagkan mata air,
seperti daun menggenangkan ranting,
rinduku menghijau berakar pada waktu,
tapi mataku tak lagi percaya pada apa yang diberitakan almanak,…
maka kubiarkan angin menerbangkan lembarannya satu-satu,
menjadi hujan yang mengeram daun-daun dipojok halaman lainya,
matamu yang jernih mampu menjadi siluet disepanjang matahariku.
Aku hanya percaya pada doa’mu, ibu…
doa yang mendetakkan jantungku,
doa yang menghembus pada kelopak mataku
doa yang melukis langit biru,
“Inilah anakmu!”…
ibu yang menulis prosa bagi usia yang memutih
agar suatu ketika dapat kubacakan usiaku dengan lantang,
dalam keteduhan pelukanmu.
Tuhan, Kuasa-Mu atas segala sesuatu
Tuhanku kuyakini firman-Mu itu
karena itu kuseru saja nama-Mu
tanpa kecurigaan sedikitpun pada waktu
dan ruang yang kurentang
Tuhanku, aku yakini itu tentang suatu kisah,
tentang sebutir debu yang dirangkum gurun-Mu
kuyakini itu adalah setetes air pada laut-Mu
Tuhanku, dalam doa yang mewakili pengakuan pada kursi-Mu
atas langit dan bumi, gunung bahkan debu, yang hidup dan yang mati.
Kuminta beri aku tenaga untuk secuil tempat
pada rentang waktu yang Kau cipata.
Tuhanku, beri aku seberkas cahaya dari Matahari-Mu
yang Agung untuk menapaki peta kelam ini,
Tuhanku dalam doa, yang mewakili batas ketidak mampuanku,
kuminta cermin untuk membedakan setan,
nafsu kekuasaan diri dan kebenaran.
Ya Allah,…
hanya lewat air matalah segalanya dapat kuungkapkan,
Beningnya hening-Mu sejukkan sapaan kabut,
ketika mulut sekalian dan jiwa berucap “Alhamdulillah” sehabis sahur
lembutnya sapaan fajar dilangit timur, adalah rahasia-Mu,
kurasakan itu adalah air mata yang menetes dari hening-Mu.
sapaan demi sapaan kurasakan adalah air mata yang menitik,
bukan karena kedukaanku,.. bukan pula kesakitan,…
penyebabnya karena:
Beningnya heningmu Kau menyingkap rahasia lembutnya menelanjangiku
Ya Ramadhan,…
Hausku bukan karena air, laparku bukan karena makanan…
Ya Ramadhan,…
laparku tak terucap, hausku tak terbilang…
Ya Ramadhan,…
Kau singkapkan segala kekosongan ini dari setiap tarikan nafas keseharian
Ya Ramadhan,…
hanya air matalah yang dapat mengungkapkan semua ini
Ya Ramadhan,…
aku begitu bisu, kelu lidahku karena Hening-Mu
Sobat,…
Waktu yang menemani kita,
tlah mewarnai kanfas, dengan putih dan hitan
sekarang,…
dengan tinta merah kutulis:
“MAAF” atas tinta hitamku
Sahabatmoe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar